Siang itu, aku berpamitan pada ayah dan ibu untuk kembali ke kota perantauan. Tak lupa aku memohon izin dan restu demi kelancaran urusanku disana "Yah, Buk, doain aku yaa semoga semuanya lancar" lirihku sebelum masuk dalam gerbong kereta. Yang selalu ku ingat dari pesan ayah dan ibuku "Jangan lupa selalu berdoa, ingat Allah, sholatnya ditingkatkan, ibadahya juga. Jaga diri baik-baik disana" kalimat itulah yang selalu menyertaiku ketika berada di kota rantau. Hanya dari bilik jendela kereta saja biasanya aku memandangi ayah dan ibu yang masih menungguku di stasiun hingga kereta melaju. Rasanya tak sampai hati bila melihat mereka yang semakin renta, namun aku masih belum menjadi apa-apa.
Perjalanan dua jam yang melelahkan, hanya duduk di kereta namun beruntung jalanan menuju Malang begitu indah terlihat deretan pegunungan yang cantik. Terlihat kanan kiri pemandangan yang masih sejuk, sangat berbeda ketika naik dengan BUS antar kota yang terlihat penuh sesak sepanjang perjalanan. Sesampainya di stasiun Kota Malang, seperti biasanya aku selalu memesan jasa driver online untuk sampai ke kos. Beginilah nasib gadis yang tak memiliki tukang ojek setia, yang bisa antar jemput kemana-mana tanpa dipungut biaya jadilah ojek online andalanya.
Perjalanan dari rumah ke kos tak terlihat begitu melelahkan bagiku yang sudah terbiasa pulang pergi kesana kemari. Bahkan terkadang sesampai di kos aku langsung bergegas mengikuti kelas kuliah. "Mbak lis, udah makan belum?" sahutku pada mbak kos yang ada sekamar denganku. Kebetulan kos kami sedang di renovasi, jadi untuk sementara waktu aku dan mbak kosku harus berbagi kamar. "Belumm innn, kamu sore ini mauu makan apaa?" begitulah kebiasaan kami yang suka bingung menentukan menu makanan. Untungnya ada destinasi kuliner yang tak pernah bosan untuk di makan, iya "KISANAK". Ayam kisanak ini selalu menjadi favorit dan andalan warga sekitar kos dan anak kampus.
.
Kriingg.. kriingg.. handphone ku berdering, tapi aku tak antusias, karena aku tahu tak ada orang spesial yang akan menelponku. Mungkin hanya teman kampus, asrama, atau sekolah yang biasanya menghubungi. Ternyata lebih dari spesial yang menelponku kali ini, ya dia adalah ibu. "Halo buu.. Assalamualaikum" jawabku. "Waalaikumsalam, udah di kos mbak in? Tadi sampai Malang jam berapa?" ibu menanyaiku seperti orang khawatir. Kami bercengkerama agak lama di telepon, padahal baru saja kami berpisah siang tadi. Biasanya juga aku pulang setiap minggu, jadi tak ada alasan untuk rindu yang ditinggal lama olehku hehe.
Aku masih tercengang mengingat obrolan ibu yang ada di telepon tadi. Aku ragu sekaligus takut pada posisiku saat ini. Iya, ibu bilang kalau ada yang melamarku. Bagaimana perasaanku? campur aduk sedih, takut, juga tidak enak. Memang posisiku saat itu masih ada si dia yang baru 7 bulan menjalin hubungan. Aku terdiam, tiba-tiba pikiranku penuh sesak seperti kendaraan yang berlalu lalang di jalanan. Entah apa yang membuatku merasa begitu, aku mulai tak paham dengan jalan pikiranku. Akhirnya aku putuskan untuk "Ah sudah lupakan saja dulu, toh juga masih di kenalin doang kok". Memang ibuku menyebutnya dengan istilah lamaran, tapi bukan seperti acara mewah yang biasanya digelar oleh anak muda. Kali ini masih bertanya pada kemauanku untuk bisa berkenalan atau tidak.
Saat itu juga aku langsung menelepon si dia, tanpa basa basi aku langsung mengatakan apa adanya. "Aku di lamar orang" sontak dia terkejut mendengan berita buruk itu. Aku masih ingat kalimat penenang yang ia ucap padaku "Aku soal ini ngga akan lepas tangan dek, aku juga cuma bisa ngasih kamu saran. Jangan seolah kamu pusing sendiri menghadapi itu" benar-benar hanya penenang sementara bagiku.
.
.
"Haloo beb, udah siapp? aku jemput yaa" ya, aku adalah mahasiswi KPL yang ditempatkan dekat dengan lokasi kos ku. Rutinitas sehari-hari ketika KPL pastinya bangun pagi, menjemput teman yang biasa kami berangkat bersama. Sepulang dari sekolah kami selalu mampir mengitari kota malang melepas penat sejenak. "Makasi ya beb. Eh besok berangkat pagii yaa" sahut temanku yang mengingatkan kalau besok jadwal kami untuk piket jaga lobby.
Sesampainya di kamar kos tubuh dan jiwa yang usang ini sontak ku robohkan di kasur. Pikiran-pikiran buruk itu kembali hadir menemani siang ku yang semilir membuat mataku terkantuk. Padahal materi untukuu mengajar besok belum sempat aku siapkan. "Udahlah gausah dipikirin teruss, pleasee" batinkuu. Tetap saja pikiran buruk itu turut menghantui hingga mimpiku siang ini.
"Mbak lis, punya buku paket kelas XI kah?" tanyaku pada mbak kos sekamarku. "Waduh gaada in, aku ngajar kelas X sama XII ajaa. Maap yaa". Pertanda aku ditugaskan untuk membeli buku paket untuk pegangan KPL. Sebelumnya aku sudah ada buku paket, itu pun aku meminjam pada teman adikku. Aku berniat ingin pinjam lagi karena ingin punya referensi materi lebih banyak. Aku juga tak paham kesambet apa kok aku jadi se-rajin ini.
Malam semakin larut, turut melebur air mata yang membasahi pipiku. Beginilah potret manusia yang mudah sekali overthingking. Aku terdiam menangis dan sesekali mencoba memejamkan mata berharap agar bisa tertidur. Usahaku nihil, sampai tengah malam aku tetap terjaga padahal besok aku harus mengisi materi di kelas. "Ah kacau" gumamku dalam hati.
.
.
"Ayo beb, keburu telaat kitaa kan piket jaga lobby" ucap temanku lewat ponsel hitam kentang ini. Aku yang terburu-buru jadi lupa tidak membawa salah satu accecories berkendara ku. Helm kuu ketinggalan, aku harus naik lagi dua lantai untuk mengambil helm. Melelahkan sekali, pagi-pagi sudah olahraga naik-turun tangga. Aku segera tancap gas untuk menjemput temanku dan pergi ke sekolah. Sesampainya di sekolah aku bertugas untuk menjaga lobby menyambut kedatangan siswa siswi.
Setiap hari selasa adalah jadwalku untuk mengisi pelajaran di kelas XI IPS 2, kegiatan KPL ini sedikit menghiburku dari momok pikiran buruk itu. Walaupun nanti ketika kembali pulang ke kamar kos, pikiran buruk itu tak jarang datang lagi. "Bagaimana anak-anak kabarnya hari ini?" tanyaku di dalam kelas. "Baik buu" "yeee akhirnya bisa ketemu sama bu guru, biar ga virtual terus buuu" Ucap salah satu siswa dalam kelasku. Benar, selama KPL sebelumnya sistem mengajarku selalu online karena kondisi di tengah pandemi.
.
Lagi-lagi sore ini kami kebingungan menentukan wisata kuliner apa yang cocok kami coba untuk hidangan makan malam nanti. "Apa ya mbak liss, enaknya makan apaa?" sahutku. "Aku juga bingung, apa kisanak lagi ya?" lagi-lagi makanan andalan disebutkan oleh mbak kos ku untuk alternatif menu makan malam kami. "Gak pengen yang lain mbak? bakso? tahu telor, nasi goreng? atau apaa?" hanya seputar itu-itu saja menu makanan kami sehari-hari. Maklum saja, aku adalah salah satu makhluk pemalas yang masih hidup dibumi. Jujur saja, selama tiga tahun ini aku hanya terhitung tidak lebih dari lima kali masak di kos. Bahkan masak mie instant saja aku masih keberatan, dasar aku.
Kami memutuskan untuk mengitari jalan sekitar kosan sambil menunggu inspirasi makanan apa yang akan kami beli malam ini. Akhirnya, kami berlabuh pada warung biru tempat menjual tahu telor dengan porsi jumbo yang sudah pasti aku tidak akan habis untuk memakanya.
Malam-malamku akhir ini terasa tidak tenang, seperti ada yang mengganjal tapi bukan bantal. Entah kenapa juga aku merasa sangat terbebani dengan berita dari ibu dua hari yang lalu. Pikiran-pikiran itu terus saja menghantuiku seolah tak kenal lelah untuk mengejarku.
.
.
Tibalah jadwal hari untukku pulang ke rumah, setiap jumat aku selalu pulang ke rumah. Seperti biasa, memesan driver online sampai ke stasiun barulah aku menaiki kereta. Meskipun ada si dia, aku tak pernah mau untuk diantar jemput kesana kemari selagi masih bisa ku tempuh sendiri. Begitulah prinsipku dalam menjalin hubungan.
Seperti biasa, jalur kereta selalu menyuguhkan pemandangan indah nan cantik dikelilingi gunung-gunung yang terlihat biru dari jauh. Rasanya ingin cepat sampai rumah untuk mengklarifikasi berita yang menghantui pikiranku berhari-hari. Yang sempat membuatku tak nyaman untuk menjalani hari-hari bahkan sampai sulit tidur karena memikirkan berita itu.
-Bersambung-